Baru-baru ini Lesti Kejora diduga oleh beberapa netizen mengalami gangguan psikologis bernama Stockholm Syndrome.
Tudingan ini mengemuka setelah pencabutan laporan oleh Lesti Kejora atas dugaan KDRT yang dilakukan oleh Rizky Billar.
Pasalnya, netizen mengira sang pedangdut masih mencintai pasangannya meskipun sudah mengalami kekerasan atau disakiti.
Hal tersebut akhirnya menjadi perbincangan hangat oleh banyak netizen di berbagai media sosial, terutama Twitter.
"Lesti bukan di posisi yang lemah. harta dia punya, simpati publik gw yakin 90 persen dukung Lesti dan siap bantu apa pun keadaannya ke depan, terus apa yang ditakutkan? Kemungkinannya cuma 2: 1. ini cuma settingan, 2. dia bucin sampe jadi t****, Stockholm Syndrome," kata akun @sudahmandi2xxx.
"Kemungkinan Lesti kena sindrom Stockholm. Stockholm syndrome atau sindrom Stockholm adalah gangguan psikologis pada korban penyanderaan yang membuat mereka merasa simpati atau bahkan menyayangi pelaku," kata akun @Ghozalixxx.
Artis senior, Desy Ratnasari, sebagai lulusan psikologi memberikan tanggapan atas dugaan yang mengemuka kepada Lesti Kejora itu.
"Jadi bahasa umumnya adalah, sebuah relasi antara pelaku dan korban, di mana korbannya merasa mencintai pelakunya," ucap Desy Ratnasari.
Ia mengungkapkan bahwa korban atau Lesti Kejora masih merasa kebingungan antara kekerasan yang dialaminya dan perasaannya.
Sehingga membuat Lesti Kejora tidak menyadari dan tertutup pikirannya atas kejadian kekerasan yang dialaminya.
Hal itu karena Lesti Kejora terbuai dengan sikap positif dari pelaku atau Rizky Billar, yang membuatnya ia merasa dicintai juga.
"Adanya relasi yang menurut kita enggak sehat, menurut dia sehat. Untuk mereka berdua" ucap Desy Ratnasari.
"Karena biasanya Stockholm Syndrome itu terbentuk karena intensitas. Intensitasnya seperti ada pujian, ada perlakuan baik, ada perlakuan menyenangkan, membahagiakan. Tapi di sisi lain, abuse," katanya.
Desy Ratnasari menyarankan untuk Lesti Kejora dan Rizky Billar agar berkonsultasi langsung dengan psikolog profesional.
Karena menurutnya, baik korban atau pelaku kekerasan yang diduga Stockholm Syndrome harus dalam posisi setara dalam kesehatan mentalnya.
"Jadi kalau memang kita mau menyampaikan sebuah diagnosa, apakah Lesti dan Billar begitu, menurut saya ada baiknya mereka datang ke psikolog, untuk melihat dan memperbaiki relasi mereka," ucapnya.
"Karena enggak bener juga hanya denger dari satu dua kata kita sambungkan, lalu kita bilang diagnosanya Stockholm Syndrom," ucapnya dikutip dari YouTube Trans Tv Official.*** (*)

Post a Comment